Materi Biokimia dasar
Protein merupakan biopolymer polipeptida yang tersusun dari sejumlah asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida. Protein mer
upakan biopolymer yang multifungsi, yaitu sebagai struktural pada sel maupun jaringan dan organ, sebagai enzim suatu biokatalis, sebagai pengemban atau pembawa senyawa atau zat ketika melalui biomembran sel, dan sebagai zat pengatur. Protein juga merupakan makromolekul yang paling berlimpah di dalam sel dan menyusun lebih dari setengah berat kering pada hampir semua organisme. Protein merupakan instrumen yang mengekspresikan informasi genetik. Protein mempunyai fungsi unik bagi tubuh,
Menyediakan bahan-bahan yang penting peranannya untuk pertumbuhan dan memelihara jaringan tubuh, mengatur kelangsungan proses di dalam tubuh, memberi tenaga jika keperluannya tidak dapat dipenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Ada berbagai cara dalam pengujian terhadap protein yaitu dengan reaksi uji asam amino dan reaksi uji protein. Reaksi uji asam amino sendiri terdiri dari 6 macam uji yaitu: uji millon, uji hopkins cole, uji belerang, uji xantroproteat, dan uji biuret. Sedangkan untuk uji protein, berdasarkan pada pengendapan oleh garam, pengendapan oleh logam dan alkohol. Serta uji koagulasi dan denaturasi protein.
Pada uji asam amino terdapat uji bersifat umum dan uji bersifat uji berdasakan jenis asam aminonya. Seperti halnya uji millon bersifat spesifik terhadap tirosin, uji Hopkins cole terhadap triptofan, uji belerang terhadap sistein, uji biuret bereaksi positif terhadap pembentukan senyawa kompleks Cu gugus –CO dan –NH dari rantai peptida dalam suasana basa. Serta uji xantroproteat bereaksi positif untuk asam amino yang mengandung inti benzena.
Asam amino merupakan unit pembangun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida pada setiap ujungnya. Protein tersusun dari atom C, H, O, dan N, serta kadang-kadang P dan S. Dari keseluruhan asam amino yang terdapat di alam hanya 20 asam amino yang yang biasa dijumpai pada protein.
Struktur molekul asam amino
Dari struktur umumnya, asam amino mempunyai dua gugus pada tiap molekulnya, yaitu gugus amino dan gugus karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion dipolar. Gugus amino dan gugus karboksil pada asam amino menunjukkan sifat-sifat spesifiknya. Karena asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini akan memberikan reaksi kimia yang yang mencirikan gugus-gugusnya.
Reaksi uji asam amino:
1. Uji Millon.
Sebanyak 5 tetes pereaksi Millon
ditambahkan ke dalam 3 mL larutan protein, dipanaskan. Uji dilakukan terhadap
larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.
2. Uji Hopkins-Cole.
2. Uji Hopkins-Cole.
Sebanyak 2 mL larutan protein dicampur
dengan pereaksi Hopkins-Cole dalam tabung reaksi. Ditambahkan 3 mL H2SO4 pekat
melalui dinding tabung sehingga membentuk lapisan dari cairan. Didiamkan,
setelah beberapa detik akan terbentuk cincin violet (ungu) pada pertemuan kedua
lapisan cairan, apabila positif mengandung triptofan. Uji dilakukan terhadap
larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%.
3. Uji Ninhidrin
3. Uji Ninhidrin
. Sebanyak 0.5 mL larutan ninhidrin
0.1% ditambahkan ke dalam 3 mL larutan protein. Dipanaskan selama 10 menit,
diamati perubahan warna yang terjadi. Uji dilakukan terhadap larutan albumin
0.02%, gelatin 0.02%, kasein 0.02%, dan pepton 0.02%.
4.
4.
Uji belerang.
Sebanyak 2 mL larutan protein ditambah
5 mL NaOH 10%, dipanaskan selama 5 menit. Kemudian ditambah 2 tetes larutan
Pb-asetat 5%, pemanasan dilanjutkan, diamati warna yang terjadi. Uji dilakukan
terhadap larutan albumin 0.02%, gelatin 0.02%, kasein 0.02%, dan pepton 0.02%.
5.
5.
Uji Xanthoproteat
. Sebanyak 2 mL larutan protein
ditambahkan 1 mL HNO3 pekat, dicampur, kemudian dipanaskan, diamati timbulnya
warna kuning tua. Didinginkan, ditambahkan tetes demi tetes larutan NaOH pekat
sampai larutan menjadi basa. Diamati perubahan yang terjadi. Uji dilakukan
terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.
6.
6.
Uji Biuret.
Sebanyak
3 mL larutan protein ditambah 1 mL NaOH 10% dan dikocok. Ditambahkan 1-3 tetes
larutan CuSO4 0.1%. Diamati timbulnya warna.
Salah satu cara untuk mengantisipasi masalah kekurangan kalori protein yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi pangan yang beraneka ragam. Dengan konsumsi bahan pangan yang beraneka ragam, maka kekurangan zat gizi dari satu jenis zat pangan akan dilengkapi oleh gizi dari pangan lainnya. Kualitas protein dalam suatu bahan makanan dapat diketahui dengan melakukan pengujian. Salah satu metode untuk mengevaluasi nilai gizi protein adalah secara in vivo.
Pada pengendapan protein oleh logam, oleh garam, oleh alkohol, uji koagulasi dan denaturasi protein. Kedalam 3 ml albumin ditambahkan 5 tetes larutan HgCl2 2%, percobaan diulangi dengan larutan Pb-asetat 5%, dan AgNO3 5%. Sepuluh ml larutan protein dijenuhkan dengan amonium sulfat yang ditambahkan sedikit demi sedikit, kemudian diaduk hingga mencapai titik jenuh dan disaring. Lalu diuji kelarutannnya dengan ditambahkan air, untuk endapan diuji dengan pereaksi Millon dan filtrat dengan pereaksi biuret. Ditambahkan 2 tetes asam asetat 1 M ke dalam tabung yang berisi 5 ml larutan protein, kemudian tabung tersebut diletakkan dalam air mendidih selama 5 menit. Lalu diambil endapan dengan batang pengaduk, untuk endapan diuji kelarutannya dengan air , sementara endapan dengan pereaksi Millon. Disiapkan 3 tabung reaksi, tabung pertama diisi campuran sebagai berikut ; 5 ml larutan albumin, 1 ml HCl 0,1 M dan 6 ml etanol 95%. Ke dalam tabung kedua dimasukkan5 ml larutan albumin, 1 ml NaOH 0,1 M dan 6 ml etanol 95%. Ke dalam tabung ketiga 5 ml larutan albumin, 1 ml buffer asetat ph 4,7 dan 6 ml etanol 95%.
Salah satu cara untuk mengantisipasi masalah kekurangan kalori protein yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi pangan yang beraneka ragam. Dengan konsumsi bahan pangan yang beraneka ragam, maka kekurangan zat gizi dari satu jenis zat pangan akan dilengkapi oleh gizi dari pangan lainnya. Kualitas protein dalam suatu bahan makanan dapat diketahui dengan melakukan pengujian. Salah satu metode untuk mengevaluasi nilai gizi protein adalah secara in vivo.
Pada pengendapan protein oleh logam, oleh garam, oleh alkohol, uji koagulasi dan denaturasi protein. Kedalam 3 ml albumin ditambahkan 5 tetes larutan HgCl2 2%, percobaan diulangi dengan larutan Pb-asetat 5%, dan AgNO3 5%. Sepuluh ml larutan protein dijenuhkan dengan amonium sulfat yang ditambahkan sedikit demi sedikit, kemudian diaduk hingga mencapai titik jenuh dan disaring. Lalu diuji kelarutannnya dengan ditambahkan air, untuk endapan diuji dengan pereaksi Millon dan filtrat dengan pereaksi biuret. Ditambahkan 2 tetes asam asetat 1 M ke dalam tabung yang berisi 5 ml larutan protein, kemudian tabung tersebut diletakkan dalam air mendidih selama 5 menit. Lalu diambil endapan dengan batang pengaduk, untuk endapan diuji kelarutannya dengan air , sementara endapan dengan pereaksi Millon. Disiapkan 3 tabung reaksi, tabung pertama diisi campuran sebagai berikut ; 5 ml larutan albumin, 1 ml HCl 0,1 M dan 6 ml etanol 95%. Ke dalam tabung kedua dimasukkan5 ml larutan albumin, 1 ml NaOH 0,1 M dan 6 ml etanol 95%. Ke dalam tabung ketiga 5 ml larutan albumin, 1 ml buffer asetat ph 4,7 dan 6 ml etanol 95%.
Uji Kualitatif Protein dan Asam Amino
Asam amino merupakan
unit pembangun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida pada setiap
ujungnya. Protein tersusun dari atom C, H, O, dan N, serta kadang-kadang P dan
S. Dari keseluruhan asam amino yang terdapat di alam hanya 20 asam amino yang
yang biasa dijumpai pada protein.

Gambar
1. Struktur molekul
asam amino
Dari struktur
umumnya, asam amino mempunyai dua gugus pada tiap molekulnya, yaitu gugus amino
dan gugus karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion dipolar. Gugus amino
dan gugus karboksil pada asam amino menunjukkan sifat-sifat spesifiknya. Karena
asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini akan memberikan reaksi
kimia yang yang mencirikan gugus-gugusnya. Sebagai contoh adalah reaksi
asetilasi dan esterifikasi. Asam amino juga bersifat amfoter, yaitu dapat
bersifat sebagai asam dan memberikan proton kepada basa kuat, atau dapat
bersifat sebagai basa dan menerima proton dari basa kuat.
Semua asam amino yang
ditemukan pada protein mempunyai ciri yang sama, gugus karboksil dan amino
diikat pada atom karbon yang sama. Masing-masing berbeda satu dengan yang lain
pada gugus R-nya, yang bervariasi dalam struktur, ukuran, muatan listrik, dan
kelarutan dalam air. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik yang
melibatkan gugus R-nya.
Melalui reaksi
hidrolisis protein telah didapatkan 20 macam asam amino yang dibagi berdasarkan
gugus R-nya, berikut dijabarkan penggolongan tersebut : asam amino non-polar
dengan gugus R yang hidrofobik, antara lain Alanin, Valin, Leusin, Isoleusin,
Prolin, Fenilalanin, Triptofan dan Metionin. Golongan kedua yaitu asam amino
polar tanpa muatan pada gugus R yang beranggotakan Lisin, Serin, Treonin,
Sistein, Tirosin, Asparagin dan Glutamin. Golongan ketiga yaitu asam amino yang
bermuatan positif pada gugus R dan golongan keempat yaitu asam amino yang
bermuatan negatif pada gugus R. Dari ke-20 asam amino yang ada, dijumpai
delapan macam asam amino esensial yaitu valin, leusin, Isoleusin, metionin,
Fenilalanin, Triptofan, Treonin, dan Lisin. Asam amino essensial ini tidak bisa
disintesis sendiri oleh tubuh manusia sehingga harus didapatkan dari luar
seperti makanan dan zat nutrisi lainnya.
Tujuan Percobaan
Percobaan ini
bertujuan untuk mempelajari beberapa reaksi uji terhadap asam amino dan
protein.
Bahan dan Alat
Alat-alat yang
digunakan adalah tabung reaksi, gelas piala, pipet tetes, pipet Mohr, kertas
saring, corong, dan penangas air. Sementara bahan-bahan yang digunakan adalah
albumin, gelatin, kasain, pepton, fenol, pereaksi millon, pereaksi Hopkins
cole, pereaksi biuret, ninhidrin, H2SO4, NaOH, HNO3, CuSO4, HgCl2, AgNO3,
(NH4)2SO4, HCl, Pb-asetat, etanol, asam asetat, dan buffer asetat pH 4,7.
Prosedur Percobaan
Uji Millon. Sebanyak
5 tetes pereaksi Millon ditambahkan ke dalam 3 mL larutan protein, dipanaskan.
Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%,
dan fenol 2%.
Uji Hopkins-Cole.
Sebanyak 2 mL larutan protein dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole dalam
tabung reaksi. Ditambahkan 3 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung sehingga
membentuk lapisan dari cairan. Didiamkan, setelah beberapa detik akan terbentuk
cincin violet (ungu) pada pertemuan kedua lapisan cairan, apabila positif
mengandung triptofan. Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%,
kasein 2%, dan pepton 2%.
Uji Ninhidrin.
Sebanyak 0.5 mL larutan ninhidrin 0.1% ditambahkan ke dalam 3 mL larutan
protein. Dipanaskan selama 10 menit, diamati perubahan warna yang terjadi. Uji
dilakukan terhadap larutan albumin 0.02%, gelatin 0.02%, kasein 0.02%, dan
pepton 0.02%.
Uji belerang.
Sebanyak 2 mL larutan protein ditambah 5 mL NaOH 10%, dipanaskan selama 5
menit. Kemudian ditambah 2 tetes larutan Pb-asetat 5%, pemanasan dilanjutkan,
diamati warna yang terjadi. Uji dilakukan terhadap larutan albumin 0.02%,
gelatin 0.02%, kasein 0.02%, dan pepton 0.02%.
Uji Xanthoproteat.
Sebanyak 2 mL larutan protein ditambahkan 1 mL HNO3 pekat, dicampur, kemudian
dipanaskan, diamati timbulnya warna kuning tua. Didinginkan, ditambahkan tetes
demi tetes larutan NaOH pekat sampai larutan menjadi basa. Diamati perubahan
yang terjadi. Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%,
pepton 2%, dan fenol 2%.
Uji Biuret. Sebanyak
3 mL larutan protein ditambah 1 mL NaOH 10% dan dikocok. Ditambahkan 1-3 tetes
larutan CuSO4 0.1%. Diamati timbulnya warna.
Pada pengendapan
protein oleh logam, oleh garam, oleh alkohol, uji koagulasi dan denaturasi
protein. Kedalam 3 ml albumin ditambahkan 5 tetes larutan HgCl2 2%, percobaan
diulangi dengan larutan Pb-asetat 5%, dan AgNO3 5%. Sepuluh ml larutan protein
dijenuhkan dengan amonium sulfat yang ditambahkan sedikit demi sedikit,
kemudian diaduk hingga mencapai titik jenuh dan disaring. Lalu diuji
kelarutannnya dengan ditambahkan air, untuk endapan diuji dengan pereaksi
Millon dan filtrat dengan pereaksi biuret. Ditambahkan 2 tetes asam asetat 1 M
ke dalam tabung yang berisi 5 ml larutan protein, kemudian tabung tersebut
diletakkan dalam air mendidih selama 5 menit. Lalu diambil endapan dengan
batang pengaduk, untuk endapan diuji kelarutannya dengan air , sementara
endapan dengan pereaksi Millon. Disiapkan 3 tabung reaksi, tabung pertama diisi
campuran sebagai berikut ; 5 ml larutan albumin, 1 ml HCl 0,1 M dan 6 ml etanol
95%. Ke dalam tabung kedua dimasukkan5 ml larutan albumin, 1 ml NaOH 0,1 M dan
6 ml etanol 95%. Ke dalam tabung ketiga 5 ml larutan albumin, 1 ml buffer
asetat ph 4,7 dan 6 ml etanol 95%.
Pada percobaan
denaturasi protein siapkan 3 tabung reaksi, tabung reaksi pertama diisi 9 ml
larutan albumin dan 1ml HCl 0,1 M, tabung reaksi kedua 9 ml larutan albumin dan
1 ml NaOH 0,1 M dan kedalam tabung reaksi ketiga ditambahkan hanya 1 ml buffer
asetat pH 4,7.
Data dan Hasil
Pengamatan
Tabel 1. berbagai uji
kualitatif pada beberapa larutan protein

Keterangan:
(-) = uji negatif
(+) = uji positf (Millon: larutan berwarna merah, terbentuk garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi; Hopkins-Cole: terbentuk cincin violet, adanya triptofan; Ninhidrin: terbentuk warna biru, khusus untuk prolin dan hidroksiprolin berwarna kuning; Belerang: terbentuk garam PbS berwarna hitam; Xanthoproteat: terbentuk warna kuning tua, adanya gugus benzena; dan Biuret: terbentuk warna violet).
(-) = uji negatif
(+) = uji positf (Millon: larutan berwarna merah, terbentuk garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi; Hopkins-Cole: terbentuk cincin violet, adanya triptofan; Ninhidrin: terbentuk warna biru, khusus untuk prolin dan hidroksiprolin berwarna kuning; Belerang: terbentuk garam PbS berwarna hitam; Xanthoproteat: terbentuk warna kuning tua, adanya gugus benzena; dan Biuret: terbentuk warna violet).
Tabel 2. Pengaruh
penambahan logam berat pada albumin

Keterangan: (+) =
terbentuk endapan
Tabel 3. Pengendapan
protein oleh garam (NH4)2SO4

Tabel 4. Uji
Koagulasi pada protein

Tabel 5. Pengendapan
protein oleh alkohol

Keterangan:
- tabung I berisi 5 ml albumin, 1 ml
HCl 0,1 M dan 6 ml etanol 95 %
- tabung II berisi 5 ml albumin, 1
ml NaOH 0,1 M dan 6 ml etanol 95%
- tabung III berisi 5 ml albumin, 1
ml buffer asetat pH 4,7 dan 6 ml etanol 95%
- (+): Terbentuk endapan
- (-): Tidak terbentuk endapan
Tabel 6. Denaturasi
protein oleh penambahan berbagai senyawa

Keterangan:
- tabung I berisi 9 ml albumin, 1 ml
HCl 0,1 M
- tabung II berisi 9 ml albumin, 1
ml NaOH 0,1 M
- tabung III berisi 1 ml buffer
asetat pH 4,7
- (+): Terbentuk endapan
- (-): Tidak terbentuk endapan
Pembahasan
Pada berbagai uji
kualitatif yang dilakukan terhadap beberapa macam protein, semuanya mengacu
pada reaksi yang terjadi antara pereaksi dan komponen protein, yaitu asam amino
tentunya. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik pada gugus R-nya,
sehingga dari reaksi tersebut dapat diketahui komponen asam amino suatu
protein.
Prinsip dari uji
millon adalah pembentukan garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi. Tirosin
merupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan
membentuk garam merkuri dengan pereaksi millon. Dari hasil percobaan, diketahui
bahwa protein albumin dan kasein mengandung Tirosin sebagai salah asam amino
penyusunnya, sedangkan gelatin dan pepton tidak. Fenol dalam hal ini digunakan
sebagai bahan percobaan karena Tirosin memiliki molekul fenol pada gugus R-nya.
Di sini, uji terhadap fenol negatif, walaupun secara teori tidak. Alasan yang
mungkin untuk hal ini adalah kesalahan praktikan dalam bekerja.
Pada uji Hopkins
cole, uji positif ditunjukkan oleh albumin, gelatin, kasein, dan pepton, dengan
ditunjukkan oleh adanya cincin berwarna ungu. Uji ini spesifik untuk protein
yang mengandung Triptofan. Triptofan akan berkondensasi dengan aldehid bila ada
asam kuaat sehngga membentuk cincin berwarna ungu.
Protein yang
mengandng sedikitnya satu gugus karboksil dan gugus asam amino bebas akan
bereaksi dengan ninhidrin membentuk persenyawaan berwarna. Uji ini bersifat
umum untuk semua asam amino, dan menjadi dasar penentuan kuantitatif asam amino.
Pada uji ini, hanya kasein yang menunjukkan uji negatif terhadap ninhidrin. Hal
ini disebabkan karena pada kasein tidak mengandung sedikitnya satu gugus
karboksil dan amino yang terbuka.
Sistein dan Metionin
merupakan asam amino yang mengandung atom S pada molekulnya.. Reaksi Pb-asetat
dengan asam-asam amino tersebut akan membentuk endapan berwarna kelabu, yaitu
garam PbS. Penambahan NaOH dalam hal ini adalah untuk mendenaturasikan protein
sehingga ikatan yang menghubungkan atom S dapat terputus oleh Pb-asetat
membentuk PbS. Dari semua bahan yang diuji, hanya albumin yang membentuk
endapan PbS, sehingga dapat disimpulkan albumin mengandung Sistein ataupun
Metionin.
Inti benzena dapat
ternitrasi oleh asam nitrat pekat menghasilkan turunan nitrobenzena. Fenilalanin,
Tirosin, dan Triptofan yang mengandung inti benzena pada molekulnya juga
mengalami reaksi dengan HNO3 pekat. Untuk perbandingan, dapat ditunjukkan oleh
fenol yang bereaksi membentuk nitrobenzena. Hasil uji menunjukkan bahwa dari
semua bahan, hanya kasein yang tidak mengandung asam amino yang mempunyai inti
benzena pada molekulnya. Tetapi hal ini patut dipertanyakan, karena dari
data-data yang diperoleh pada uji millon dan uji Hopkins cole, kasein
mengandung tirosin dan triptofan. Salah satu alasan yang mungkin adalah karena
kesalahan kerja praktikan dalam mengamati warna yang terbentuk selama reaksi.
Pada uji biuret,
semua protein yang diujikan memberikan hasil positif. Biuret bereaksi dengan
membentuk senyawa kompleks Cu dengan gugus -CO dan -NH pada asam amino dalam
protein. Fenol tidak bereaksi dengan biuret karena tidak mempunyai gugus -CO
dan -NH pada molekulnya.
Protein yang
tercampur oleh senyawa logam berat akan terdenaturasi. Hal ini terjadi pada
albumin yang terkoagulasi setelah ditambahkan AgNO3 dan Pb-asetat.
Senyawa-senyawa logam tersebut akan memutuskan jembatan garam dan berikatan
dengan protein membentuk endapan logam proteinat. Protein juga mengendap bila
terdapat garam-garam anorganik dengan konsentrasi yang tinggi dalam larutan protein.
Berbeda dengan logam berat, garam-garam anorganik mengendapkan protein karena
kemampuan ion garam terhidrasi sehingga berkompetisi dengan protein untuk
mengikat air. Pada percobaan, endapan yang direaksikan dengan pereaksi millon
memberikan warna merah muda, dan filtrat yang direaksikan dengan biuret
berwarna biru muda. Hal ini berarti ada sebagian protein yang mengendap setelah
ditambahkan garam.
Pada uji koagulasi,
endapan albumin yang terjadi setelah penambahan asam asetat, bila direaksikan
dengan pereaksi millon memberikan hasil positif. Hal ini menunjukkan bahwa
endapan tersebut masih bersifat sebagai protein, hanya saja telah terjadi
perrubahan struktur tersier ataupun kwartener, sehingga protein tersebut
mengendap. Perubahan struktur tesier albumin ini tidak dapat diubah kembali ke
bentuk semula, ini bisa dilihat dari tidak larutnya endapan albumin itu dalam
air.
Pada uji pengendapan
oleh alkohol, hanya tabung-tabung yang mengandung asam (ber-pH rendah) yang
menunjukkan pengendapan protein. Pada protein, ujung C asam amino yang terbuka
dapat bereaksi dengan alkohol dalam suasana asam membentuk senyawa protein
ester. Pembentukan ester ini ditunjukkan oleh adanya endapan yang terbentuk.
Protein akan terdenaturasi atau mengendap bila berada pada titik isolistriknya, yaitu pH dimana jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatifnya. Pada uji denaturasi, protein yang dilarutkan dalam buffer asetat pH 4,7 menunjukkan adanya endapan. Protein yang dilarutkan dalam HCl maupun NaOH, keduanya tidak menunjukkan adanya pengendapan, namun setelah ditambahkan buffer asetat dengan volume berlebih, protein pun mengendap hal ini menunjukkan bahwa protein albumin mengendap pada titik isolistriknya, yaitu sekitar pH 4,7.
Protein akan terdenaturasi atau mengendap bila berada pada titik isolistriknya, yaitu pH dimana jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatifnya. Pada uji denaturasi, protein yang dilarutkan dalam buffer asetat pH 4,7 menunjukkan adanya endapan. Protein yang dilarutkan dalam HCl maupun NaOH, keduanya tidak menunjukkan adanya pengendapan, namun setelah ditambahkan buffer asetat dengan volume berlebih, protein pun mengendap hal ini menunjukkan bahwa protein albumin mengendap pada titik isolistriknya, yaitu sekitar pH 4,7.
Kesimpulan
Protein dan asam
amino memberikan reaksi yang bersifat khas, bukan hanya bagi gugus amino dan
gugus karboksil bebas, tetapi juga bagi gugus R yang terkandung di dalamnya.
Protein dapat bereaksi dengan pereaksi-pereaksi lain seperti juga asam amino
yang menjadi penyusunnya. Protein dapat mengendap atau terdenaturasi oleh logam
berat, garam-garam anorganik, rusaknya struktur tersier dan kwartener, serta
karena berada pada titik isolistriknya.
Daftar Pustaka
Girindra, A. 1986. Biokimia
I. Gramedia, Jakarta.
Lehninger, A. 1988. Dasar-dasar Biokimia. Terjemahan Maggy Thenawidjaya. Erlangga, Jakarta
Lehninger, A. 1988. Dasar-dasar Biokimia. Terjemahan Maggy Thenawidjaya. Erlangga, Jakarta
0 Response to "Materi Biokimia dasar"
Posting Komentar