PERIODISASI SEJARAH PERADABAN ISLAM
PERIODISASI
SEJARAH PERADABAN ISLAM
1.
KLASIK ( 600 – 1258 M)
2.
PERTENGAHAN (smp akhir Abad 17 M)
3.
MODERN ( Abad 18 M s/d Sekarang)
1.
PERIODE KLASIK
- Berlangsung sejak Abad ke – 7 s/d 12 M)
- 3 Fase : 1. Penciptaan Komunitas Islami di Arabia
2. Penaklukan Timur Tengah olh Muslimin
3. Nilai Islam merubah Mayoritas
timurTengah
- Ciri : Perpaduan Peradaban Islam dg TimurTengah,
pola ekonomi dan monoteistik.
2.
PERIODE PERTENGAHAN
Ø Berlangsung dari Abad 13 – 19 M
Ø Ciri : Era Penyebaran Global Masyarakat Islam, Islam
menjadi agama masyarakat Asia Tengah, Cina, India, Asia Tenggara, Afrika dan
Balkan.
Ø Interaksi Nilai-nilai Islam dg Nilai-nilai Masyarakat
setempat.
4. PERIODE
MODERN
Berlansung
dari abad ke – 18 s/d 20 M
Ciri
: Modernisasi & Transformasi Masy. Muslim
Kehancuran
Imperium Islam, Kemunduran ekonomi, konflik internal keagamaan.
Kebangkitan
Peradaban dan Ekonomi Eropa serta dominasi culturnya
Hadirnya
Nabi Muhammad pada masyarakat Arab membuat terjadinya kristalisasi pengalaman
baru dalam dimensi ketuhanan yang mempengaruhi segala aspek kehidupan
masyarakat, termasuk hukum-hukum yang digunakan pada masa itu.
Berhasilnya
Nabi Muhammad SAW dalam memenangkan kepercayaan yang dianut bangsa Arab. Dalam
waktu yang relatif singkat beliau mampu memodifikasi jalan hidup orang-orang
Arab.
Sebagaian
dari nilai dan budaya Arab pra-islam, dalam beberapa hal diubahnya dan ada pula
yang diteruskan oleh masyarakat Nabi Muhammad ke dalam tatanan moral Islam.
Hadirnya
Nabi Muhammad, sedikit demi sedikit merubah budaya-budaya yang tidak
memanusiakan manusia dalam artian budaya yang mengarah pada keburukan menjadi
budaya-budaya yang mengarah kepada kebaikan dalam payung Islam.
Islam sangat
berperan penting dalam menciptakan peradaban yang luar biasa yang tercipta pada
masa zaman Nabi Muhammad. Dan aktor penting di balik itu semua tidak lain ialah
Nabi Muhammad sendiri. Nabi Muhammad tidak hanya sebagai Nabi melaikan ia juga
memerankan sebagai pengajar, pendidik, pemimpin, pemimpin militer, politikus,
reformis, dan lain-lain.
Nabi
Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW
lahir pada tahun gajah, tahun ketika pasukan gajah Abrahah mengalami
kehancuran.[1] Peristiwa itu terjadi kira-kira pada
tahun 570 M (12 Rabiul Awal). Beliau lahir tidak jauh dari ka’bah. Ayahnya
Abdullah meninggal dunia ketika beliau masih dalam kandungan, sementara ibunya
Aminah wafat sewaktu ia berusia 6 tahun. Kakeknya Abdul Muthalib mengasuhnya
selama dua tahun, dan ia diasuh oleh pamannya Abu Thalib.
Dalam usia muda,
Nabi Muhammad hidup sebagai pengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk
mekah. Melalui kegiatan pengembalaan ini, dia menemukan tempat untuk berpikir
dan merenung. Pemikiran dan perenungan ini membuat beliau jauh dari segala
pemikiran nafsu duniawi, sehingga beliau terhindar dari berbagai macam noda
yang dapat merusak namanya.
Selain mengembala
beliau juga berdagang, ketika beliau tinggal bersama pamannya Abu Thalib,
beliau mengikuti pamannya itu berdagang ke negeri Syam, sampai beliau dewasa
dan dapat berdiri sendiri. Dalam perjalanan itu, dibushra, sebelah selatan
Syria (Syam) ia bertemu dengan pendeta Kristen bernama buhairah. Pendeta itu
melihat tanda-tanda kenabian pada diri Nabi Muhammad sesuai dengan petunjuk
cerita-cerita Kristen. Pendeta itu menasehati Abu Thalib agar jangan terlalu
jauh memasuki Syria, sebab dikhawatirkan orang-orang yahudi yang mengetahui
tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadapnya.[2]
Ketika
Nabi Muhammad berusia 25 tahun, beliau berangkat ke Siria membawa barang
dagangan seorang saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda, Khadijah.
Dalam perdagangan ini, Nabi Muhammad memperoleh laba yang besar. Khadijah
kemudian melamarnya. Lamaran itu diterima dan pernikahanpun segera
dilaksanakan. Ketika itu Khadijah berumur 40 tahun.
Dalam
perkembangan selanjutnya, Khadijah adalah wanita pertama masuk Islam dan banyak
membantu Nabi Muhammad dalam perjuangan menyebarkan Islam. Pernikahan itu
dikarunia enam orang anak, dua putra dan empat putri: Qasim, Abdullah, Zainab,
Ruqayah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Kedua putranya meninggal waktu kecil. Nabi
Muhammad tidak menikah lagi sampai Khadijah meninggal dunia.
Nabi
Muhammad adalah seorang yang mempunyai akhlak yang sempurna
Sungguh
Nabi Muhammad adalah ushwatun hasanah. Akhlaknya sebagai contoh bagi pribadi
seseorang maunpun masyarakat umum.[3]
Akhlak beliau telah begitu mulia semenjak beliau diciptakan atau dilahirkan,
sehingga masyarakat menjulukinya sebagai Al-Amin. Tak seorang pun menilai
beliau seorang yang pendusta ataupun penghianat.
Jujur
adalah salah satu akhlak yang wajib dimiliki oleh manusia. Oleh karena itulah
Allah SWT berbicara dalam Al-Qur’an tentang sifat ini. Allah SWT berfirman:
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah
kamu bersama orang-orang yang benar.
Ayat
diatas sebagai dalil bahwasannya masyarakat muslim wajib mempunyai sifat ini,
karena jujur merupakan kunci segala kebaikan.[4]
Dan Nabi Muhammad adalah contoh yang sempurna dalam hal ini. Sampai sebelum
beliau diutus saja beliau sudah bersifat jujur sehingga masyarakat Arab
menjulukinya Al-Amin.
Kasih
Sayang
Kasih
sayang adalah salah satu dari sifat-sifat Allah SWT. Dan kasih sayang yang
sangat besar diberikan Allah SWT kepada umatnya ialah dengan mengutus Nabi
Muhammad kepada ummatnya, untuk membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya
Islam. Tidak diragukan lagi bahwasannya Nabi Muhammad juga memiliki sifat kasih
sayang, ini dapat dilihat dari bagaimana ia memperlakukan anak kecil,
orang-orang yang lemah, para wanita, dan lain-lainnya.
4.
Adil
Tidak
diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang adil. Ini dapat dilihat
dari bagaimana ia menghakimi sebuah perkara dalam masyarakat Islam.
5.
Mulia
Sebagai
seorang Nabi, sifat mulia sangatlah melekat di dalam diri Nabi muhammad. Ia
merupakan contoh yang sempurna bagi seluruh ummat.
Peradaban
Islam Pada Masa Rasulullah SAW
Peradaban
Islam pada masa Rasulullah SAW yang paling dasyat dan fenomenal adalah
perubahan sosial. Suatu perubahan yang mendasar dari masa kebobrokan moral
menuju moralitas manusia yang beradab. Peradaban pada masa Rasulullah SAW
dilandasi dengan asas-asa yang diciptakan sendiri oleh Rasulullah SAW di bawah
bimbingan wahyu yaitu Islam. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Pembangunan
Masjid Quba’
Ketika
Rasulullah dan para sahabat hijrah menuju Madinah, orang-orang Anshar yang tak
lain adalah kaum Aus dan Khazraj menanti dengan antusias kedatangan Rasulullah
SAW. Tatkala Rasulullah SAW tiba, mereka keluar rumah dan menyambutnya dengan
penuh suka cita. Rasulullah SAW berhenti di Quba’ selama lima hari. Di Quba’
inilah Rasulullah SAW mendirikan masjid yang kemudian dikenal dengan sebutan
masjid Quba’. Ini adalah masjid pertama yang dibangun setelah masa kenabian.
2.
Pembangunan Masjid Nabawi
Dikisahkan
bahwa unta tunggangan Rasulullah SAW berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah
SAW memerintahkan agar di tempat itu dibangun sebuah masjid. Rasulullah ikut
serta dalam pembangunan masjid tersebut. Beliau mengangkat dan memindahkan
batu-batu masjid itu dengan tangannya sendiri. Saat itu kiblat dihadapkan ke
Baitul Maqdis.[5]
Tatkala
pembangunan masjid selesai, Rasulullah memasuki pernikahannya dengan Aisyah
pada bulan Syawal. Sejak saat itulah Yatsrib dikenal dengan Madinatur Rasul
atau Madinah Al-Munawwarah. Kaum muslimin melakukan berbagai aktivitasnya di
dalam masjid ini baik itu beribadah, belajar, memutuskan perkara mereka,
berjual beli, dan lain sebagainya. Tempat ini menjadi faktor yang mendekatkan
di antara mereka.
3.
Tegaknya Keadilan
Misi
Rasulullah SAW yang utama ialah memperbaiki moral dan masyarakat dan menegakkan
sebuah sistem kemasyarakatan berlandaskan keadilan yang jauh dari penindasan.
Nabi ingin menciptakan suatu masyarakat yang penuh keadilan dan penuh kasih
sayang. Ketika Nabi ingin mendirikan masyarakat seperti itu beliau berhadapan
dengan musuh-musuh keadilan dan musuh-musuh kasih sayang. Oleh karena itu,
keterlibatan Nabi dalam politik hanyalah sejauh menentang ketidak adilan dan
kezaliman.[6]
Beliau
membuat konstitusi berdasarkan musyawarah dengan orang Yahudi, Nashara, dan
orang kafir yang tidak beragama. Semua membangun hidup di kota Madinah. Kalau
orang Yahudi diserang, orang lain akan membantu; dan kalau orang Islam
diserang, yang lain pun akan membantunya. Madinah menjadi kota pluralitis yang
dimiliki oleh berbagai agama
Persaudaraan
Antara Kaum Muhajirin dan Anshar
Rasulullah
SAW mempersaudarakan di antara kaum muslimin. Mereka kemudian membagikan rumah
yang mereka miliki, bahkan juga istri-istri dan harta mereka. Persaudaraan ini
terjadi lebih kuat dari pada hanya persaudaraan yang berdasarkan keturunan.
Dengan persaudaraan ini, Rasulullah SAW telah menciptakan sebuah kesatuan yang berdasarkan
agama sebagai pengganti dari persatuan yang berdasarkan kabilah.
5.
Kesepakatan Untuk Saling Membantu Antara Kaum Muslimin dan Non-Muslimin
Di
Madinah ada tiga golongan manusia. Kaum muslimin, orang-orang Arab, serta kaum
Non-Muslimin dan orang-orang Yahudi (Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani
Qainuqa’). Rasulullah SAW melakukan satu kesepakatan dengan mereka untuk
terjadinya sebuah keamanan dan kedamaian. Juga untuk melahirkan sebuah suasana
saling membantu dan toleransi di antara golongan tersebut.
6.
Terbangunnya Umat Yang Berideologi Islam
Selain
mereformasi keadilan, Rasulullah SAW juga mengubah masyarakat dari sistem
sosial yang berdasarkan kesukaan, kekeluargaan, dan kelompok menjadi komunitas
yang berdasarkan ideologi Islam: dari perasaan kekabilahan ke sebuah sistem
yang berdasarkan pada ikatan keislaman atau ukhuwwah islamiyyah. Nabi mengubah
masyarakat yang diikat oleh kesetiaan kepada kelompok menjadi masyarakat yang
setia kepada Islam: dari kehidupan yang berdasarkan semangat suku dan fanatisme
kelompok kepada kehidupan yang didasarkan pada persaudaraan Islam.
Dalam
masyarakat Arab zaman jahiliah, orang-orang bergabung tidak dalam suku bangsa,
tetapi dalam kabilah atau keluarganya masing-masing. Misalnya, dalam kabilah
Bani Kinanah, Bani Quraisy, dan Bani Kilab. Kesetiaan seseorang bergantung pada
kabilahnya. Kalau ada tamu datang kepada satu kabilah, tamu itu bukan saja
menjadi tamu bagi seseorang, melainkan juga bagi seluruh kabilah itu. Orang
yang memusuhi seseorang dalam suatu kabilah, bukan saja menjadi musuh bagi
seseorang tersebut, melainkan juga musuh bagi seluruh anggota kabilah itu.
Kalau ada orang yang terbunuh di antara mereka, seluruh kabilah akan
membelanya. Tidak jadi persoalan apakah orang itu benar atau salah.
Peletakan
Asas-asas Politik, Ekonomi, dan Sosial
Islam
adalah agama dan sudah sepantasnya jika di dalam negara diletakkan dasar-dasar
Islam. Rasulullah SWT dengan segala usahanya telah membentuk kota Madinah
dalam sebuah kehidupan yang mulia dan penuh dengan nilai-nilai utama. Terjadi
sebuah persaudaraan yang jujur dan kokoh, ada solidaritas yang erat di antara
anggota masyarakatnya. Dengan demikian, berarti bahwa inilah masyarakat Islam
pertama yang dibangun Rasulullah SAW dengan asas-asasnya yang abadi.
isi
Lain Dari Rasulullah SAW
1.
Rasulullah SAW Adalah Seorang Reformis
Seperti
yang telah disinggung sebelumnya bahwa misi Rasul yang utama ialah memperbaikai
moral masyarakat dan menegakkan sebuah sistem masyarakat yang berlandaskan
keadilan. Lalu apa reformasi yang dilakukan oleh Rasulullah SAW? Reformasi
Rasul ialah berupaya untuk menegakkan sebuah sistem masyarakat berdasarkan
keadilan. Rasul tidak pernah berteriak-teriak ingin mendirikan negara Islam.
Rasul tidak pernah bersabda “marilah kita berjuang mendirikan negara Islam”.
Rasulullah
SAW Adalah Seorang Pemimpin Politik
Rasulullah
SAW adalah pemimpin kaum muslimin secara politik dan militer. Beliaulah yang
membawa mereka memetik kemenangan demi kemenangan.
Sukses
tidaknya seorang peminpin politik, tergantung pada banyak hal. Seorang pemimpin
harus memenuhi hal-hal berikut:[10]
0 Response to "PERIODISASI SEJARAH PERADABAN ISLAM"
Posting Komentar